-->

Rabu, 20 Mei 2015

Perencanaan media dakwah

Sebelum kita melakukan kegiatan dakwah maka akan lebih baiknya jika kita melakukan perencanaan. Dalam hal ini kita akan merencanakan media dakwah yang akan kita gunakan apakah itu berupa media cetak, elektronik atau audio visual. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan media dakwah adalah: 1. Berdasarkan data dan informasi yang akurat. Data yang kita dapatkan haruslah data yang valid. Data yang valid dapat berupa dimana kita harus berdakwah; apakah dipedalaman, pedesaan atau di perkotaan. Berapa jumlah mad’u, siapa saja yang akan menghadiri acara tersebut. Hal tersebut haruslah jelas informasinya agar dalam perencanaan media yang kita gunakan tepat sasaran dan efisien. 2. Menggunakan data analisis masa depan. 3. Memberikan gambaran situasi tempat yang akan kita gunakan. Agar dapat mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi dilapangan. 4. Bentuk rincian rencana dapat disusun dalam bentuk: a. Kebijaksanaaan (policy), yaitu pedoman yang diberi ruang penafsiran dan pertimbangan para pelaksana. b. Prosedur, sebagai tahapan tindakan yang harus dilakukan para pelaksana dalam rangka mencapai tujuan. c. Budget, yaitu keuangan baik sebelum, dalam proses dan setelah pelaksanaan dakwah dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman keuangan antar anggota pelaksana kegiatan dakwah. d. Program, haruslah ditentukan untuk menentukan kegiatan apa saja yang dilakukan serta alat apa saja yang akan dibutuhkan nantinya. e. Sarana dan prasarana, direncanakan agar hal-hal yang menyangkut pengadaan serta penggunaan media dapat terpenuhi. Semakin baik perencanaan maka semakin baik pula kegiatan dakwah yang diselenggarakan. Ada hal-hal yang perlu dihindari agar tidak merusak perencanaan yang telah disusun rapih. Yaitu perencanaan yang tidak matang. Sebuah perencanaan harus dilakukan dengan matang betul, baik dari segi keuangan, peralatan maupun akomodasinya. Selain itu intruksi tidak boleh saling tumpang tindih. Intruks yang tidak jelas akan merusak rencana yang telah disusun. Disarankan sebuah intruksi harus memiliki komando utama serta komando perdivisi yang bertanggung jawab. Pelaksana dilapangan haruslah orang-orang yang sudah berpengalaman, hal ini dilakukan agar ketika proses dakwah berjalan tidak mengganggu. Sebuah acara tidak akan lancar tanpa adanya dukungan dari masyarakat sekitar. Oleh karena itu, seorang ketua acara haruslah mengkondisikan hal ini dengan baik dan matang yang didukung oleh personil yang lainnya terutama bagian humas dan pemasaran.

Selasa, 05 Mei 2015

Kelemahan media dakwah

1. Surat kabar: kelemahan surat kabar yaitu untuk menyerap berita dibutuhkan kemampuan membaca. Sedangkan masyarakat yang buta huruf di Indonesia masih tinggi. Sehingga surat kabar/ majalah tidak mampu masuk kedalam kalangan bawah;khususnya yang tidak bisa membaca. Hambatan geografis juga menjadi kelemahan media surat kabar, jarak yang jauh dan bisa memakan waktu yang lama untuk sampai ke pedesaan apalagi ke pedalaman. 2. Film : kelemahan yang dimiliki oleh media dakwah film yaitu dalam penayangannya harus disuatu tempat khusus dan waktunya yang sudah dijadwalkan. Seperti di bioskop atau di sebuah lapangan terbuka. 3. Radio : kelemahan yang dimiliki radio tidak mampu menggambarkan situasi yang terjadi sehingga mad’u hanya mampu membayangkan dengan imajinasinya. Siaran radio hanya sekali sehingga tidak mampu diulang dan kurang berkesan. 4. Televisi seperti layaknya radio, televisi memiliki kelemahan tidak dapat diputar ulang. Karena begitu bayaknya chanel sehingga pengawasan terhadap konten yang disajikan harus lebih ketat lagi. Sehingga acara radikal yang disajikan tidak ditayangkan. Tidak seluruh wilayah Indonesia teraliri listrik sehingga tidak menjangkau keseluruh daerah di Indonesia terutama didaerah pedalaman. Serta tidak semua kalangan masyarakat memiliki pesawat televisi. 5. Internet: seperti kelemahan media dakwah modern yang lainnya. Internet juga terbatas hanya pada mad’u yang mengerti akan teknologi. Serta hanya yang memiliki koneksi dengan internet.

Dakwah yang efektif dan efisien

Menurut hemat saya dakwah yang efektif adalah bukan dilihat dari media yang digunakan. Namun dilihat dari seberapa banyak hasil yang kita dapatkan jika dibandingkan dengan target yang kita buat. Misalnya, kita berdakwah di kalangan orang kota pada suatu perusahaan. Maka, dari jumlah keseluruhan karyawan yang kita ajak kepada kebaikan berapa persen yang mengikutinya. Anggap dari 100% yang mengikuti hanya 65%. Maka, dakwah yang kita lakukan mendapatkan nilai cukup efektif. Terlepas dari media apa yang digunakan. Sedangkan dakwah dikatakan efisien apabila dari keseluruhan target yang kita rencanakan dapat kita capai dengan waktu dan sumber daya yang seminimal mungkin.

Pengawasan media dakwah

Dalam konteks dakwah masa kini, media memiliki peran yang sangat penting untuk membentuk opini di tengah-tengah masyarakat. Dengan begitu sebuah media diperlukan adanya pengawasan. Pengawasan menurut Murdick merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumitnya dan luasnya suatu organisasi. Pengawasan adalah aktifitas yang dilakukan dengan maksud agar perilaku personalia media mengarah ketujuan media, bukan semata- mata pada tujuan individu dan agar tidak terjadi penyimpangan yang berarti antara rencana media diawal dengan pelaksanaanya dilapangan.
Kegiatan pengawasan media dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menetapkan tujuan apa yang sudah dilaksanakn, menilainya dan mengoreksi bila perlu dengan maksud agar pelaksanaan tujuan media sesuai dengan rencana semula.
Dalam berdakwah pengawasan (controling) diartikan Riqobah, yang dimaksudkan sebagai sebuah kegiatan yang mengukur penyimbangan dari prestasi yang direncanakan dan menggerakan tindakan korektif.

Pengawasan media dakwah bertujuan agar media yang digunakan tidak melenceng jauh dari tuntunan sunah dan alquran serta etika media yang berlaku.

Keunggulan media dakwah

Begitu banyak media massa yang dapat kita gunakan sebagai media dakwah. Setiap media yang digunakan memiliki karakteristik keunggulannya masing-masing. Berikut keunggulan media dakwah:
1.      Surat kabar memiliki keunggulan dapat dibaca secara offline dimana saja, dapat disimpan dan dapat didokumentasikan, dapat dikaji ulang dan dapat dijadikan bukti otentik. Harganya juga terjangkau serta mudah didapatkan. Surat kabar/ majalah dapat dijadikan sebagai media dakwah dengan konten dan target mad’u yang lebih tinggi yaitu kalangan orang-orang intelektual.
2.      Film memiliki keunggulan sebagai media dakwah karena mudah dipahami dan dinikmati oleh semua kalangan. Ketika sebuah film diputar maka akan dengan segera mad’u mampu menterjemahkan isi pesan dakwah tersebut. Tidak melihat orang tersebut buta huruf atau tidak cerita didalam film tersebut mampu diserap dengan mudah.
3.      Radio memiliki keunggulan berupa siaran dakwah yang dilakukan akan lebih mudah tersebar dikarenakan dari pedesaan hingga perkotaan sudah sangat dekat dengan radio. Sebelum pesawat televisi muncul, radiolah yang lebih akrab dikalangan masyarakat. Radio lebih murah harganya dibandingakan dengan media televisi. Dan juga mudah dibawa kemana-mana, tidak halnya dengan televisi. Sehingga dakwah yang kita sebarkan akan lebih sering didengar oleh mad’u dan mampu mempengaruhi pemikiran mad’u.
4.      Televisi keunggulan yang dimilikinya seperti media televisi ini mampu memadukan antara suara dan gambar sehingga mad’u tidak perlu memiliki keahlian membaca atau menggambar untuk memahami isi dakwah yang disapaikan. Pilihan chanel dan program yang gratis juga bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk menyebarkan dakwah.

5.      internet , dengan internet dakwah akan dengan mudah tersebar ke penjuru dunia. Dengan internet kita bisa mengetahui secara cepat berita ataupun dakwah yang dilakukan oleh da’i di mancanegara. Contohnya media dakwah intenet ialah blog, website, media sosial; twitter, path, instagram, facebook dan lain sebagainya. Intenet mencakup semua unsur baik suara, gambar dan tulisan. Serta dalam video youtube sebuah acara dakwah dapat diulang-ulang sampai beberapa kalipun yang dikehendaki oleh mad’u. Dapat pula melalui siaran streaming radio, televisi bahkan live streaming sholat tarawih yang diadakan di Makkah dapat kita saksikan dari Indonesia. Dan dapat kita rekam serta dapat kita putar kembali.

Perkembangan media dakwah

Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tidak bisa lepas dari peran para wali sebagai ulama penyebar ajaran Islam. Yang cukup menarik untuk disimak adalah cara para wali menyebarkan ajran Islam. Dimana pada masa itu masyarakat sebagian besar memeluk ajaran hindu. Para wali pada masa itu tidak dengan cara radikal menentang ajaran-ajaran yang ada pada masa itu. Salah satu yang populer adalah wayang. Dimana sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, khususnya tanah Jawa, wayang telah menemukan bentuknya. Bentuk awal wayang berupa relif yang bisa kita jumpai di candi-candi seperti di Prambanan maupun Borobudur.
Para wali melihat wayang bisa menjadi media penyebaran ajaran Islam yang sangat efektif. Namun, timbulah perdebatan antara para wali tentang bentuk wayang yang menyerupai bentuk manusia. Setelah bermusyawarah, akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk menggunakan wayang sebagai media dakwah tetapi dalam bentuk wajah yang digambar miring, leher yang panjang, serta tangan yang dibuat memanjang sampai kaki, bentuk bagian wajah yang dibuat berbeda denga bagian wajah manusa serta terbuat dari kulit kerbau.
Tidak hanya bentuk yang berbeda tapi ada banyak sisipan cerita dan pemaknaan wayang yang berisi ajaran- ajaran dan pesan moral. Seperti dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima ditokohkan sebagai tokoh sentral yang mana meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Selain Bima ada pula saudaranya yaitu Janaka yang memiliki peran sebagai tokoh yang memiliki ajaran-ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil dan bertatakrama yang baik sesama manusia.

Cara berdakwah yang diterapkan para wali tersebut terbuki efektif. Masyarakat menerima ajran Islam tanpa adanya pertentangan maupun penolakan. Ajaran Islam tersebar di seluruh tanah jawa. Penganut Islam semakin hari semakin banyak, termasuk para penguasa. Pagelaran wayang pun makin sering dipentaskan. Tidak hanya pada upacara-upacara resmi kerajaan, masyarakat secara umum pun kerap menggelarnya. Karena banyak ajaran moral dan kebaikan dalam lakon-lakonnya, wayang tak hanya dianggap sebagai tontoanan saja, tapi juga menjadi tuntunan. Kini era telah berubah menjadi era modern, dengan begitu bayak media- media masa yang lebih simpel, efektif dan cepat dalam mengkomunikasikan ajaran Islam khususnya. Dengan begitu media dakwah pun mengikuti perkembangan zaman.

Visi dan misi dakwah

Visi dan misi dakwah yaitu visi dakwah islam yaitu untuk mencapai tujuan dan sasaran dakwah. Tujuan dan sasaran dakwah islam berupa dakwah islam yang profesional dan berwawasan luas, intelektual tinggi yang beretika, membangun jiwa insani yang jujur, amanah dan dapat dipercaya,serta mampu membangun potensi insani dalam mewujudkan umat manusia yang taat kepad Allah da Rasulullah. Sedangkan misi dakwah yang dapat kita lakukan adalah memberikan kontribusi nyata dalam membangun bangsa dan negara melalui dakwah, pengkajian, pemahaman dan penerapan ajaran islam yang rahmatan lil ‘alamin. Agar pelaksanaan dakwah berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka kita harus mampu merencanakan media dakwah yang baik dan benar menurut ajaran.

Visi dan misi media dakwah

Visi merupakan gambaran masa depan mau diarahkan kemana dakwah yang kita lakukan. Visi ditentukan untuk menentukan tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Visi adalah what be believie we can be. Sedangkan misi adalah what be believe we can do.Misi adalah apa yang akan kita lakukan untuk mencapai gambaran masa depan. Misi merupakan langkah-langkah dan strategi yang digunakan untuk mencapai visi. Visi dan misi media dakwah tidak terlepas dari visi misi dakwah yang digunakan oleh seorang da’i. Visi dari media dakwah atau tujuan dari media dakwah adalah untuk menjadi media alternatif rujukan yang akurat. Baik dalam hal rujukan konten beribadah maupun bermuamalah bagi umat. Sumber informasi yang lurus dari simpang siurnya informasi yang dihembuskan media barat atau musuh umat Islam itu sendiri. Visi media dakwah lainnya yaitu sebagai penggerak dakwah Islam. Media dakwah sebagai pemercepat kegiatan dakwah yang dilakukan seorang da’i sehingga informasi yang tersebat dapat dengan cepat di terima oleh umat. Visi media dakwah selanjutnya yaitu untuk penangkal gerakan radikal serta penangkal pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan ajaran sunah dan alquran. Sedangkan misi media dakwah yaitu memberikan informasi yang akurat dan terpercaya dalam kegiatan dakwah serta berbuat taat kepada Allah dan Rasull-Nya.

Jenis-jenis media dakwah

Media dalam berdakwah banyak jenisnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. Media dakwah yang bersifat umum bisa digunakan oleh semua golongan dan tujuan umum, seperti media cetak dan media elektronik. Sedangkan yang bersifat khusus media dakwah berupa mimbar khutbah, masjid dan majelis taklim. Media dakwah yang bersifat umum seperti media cetak baik surat kabar, buku, majalah, dan media tulis lainnya. Selain media cetak, media dakwah yang digunakan jenisnya bisa berupa audio seperti radio. Pada zaman digital ini peran radio masih banyak digunakan oleh masyarakat umum sehingga masih relevan digunakan sebagai media dakwah. Hal ini dapat kita buktikan dengan munculnya radio-radio bernafaskan islam yang mana didalamnya banyak mengandung ajakan kepada kebaikan. Seperti radio RAS FM, radio Rojja dan radio NU. Jenis media dakwah yang tidak kalah pentingnya adalah televisi. Media dakwah yang satu ini merupakan gabungan dari media audio dan visual yang mampu menampilakan suara dan gambar. Sehingga mad’u dapat mendengar dan melihat siapa da’i yang menyampaikan dakwahnya. Satu lagi media dakwah yang dapat kita gunakan adalah media internet. Media internet sangat besar peranannya dalam menyampaikan dakwah yang akan da’i gunakan. Baik menggunakan blog, website, media sosial bahkan video streaming. Dari sekian banyak media dakwah yang dikemukakan hal ini tergantung visi dan misi seorang da’i dalam berdakwah.

Etika dan norma berdakwah

Etika dan norma berdakwah yang berlaku adalah  media dakwah yang digunakan bukanlah media yang bertentangan dengan ajaran Islam dan tuntunan sunah nabi dan alquran. Media yang dipergunakan relevan dengan kondisi masa kini namun tidak menimbulkan permusuhan serta masih dalam konteks sunah dan alquran. Media dakwah yang dipergunakan sesuai dengan tingkatan mad’u. Dan dalam berdakwah seorang da’i tidak menjurus kepada ajakan yang menyekutukan Allah, dan tidak mengarah kepada membuat kebencian kepada Rasul dan para sahabat nabi.

Pengertian Media Dakwah


Kata media berasal dari bahasa Latin, yaitu median yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara istilah media dapat diartikan sebagai alat perantara. Sedangkan menurut Wilbur Schramn media adalah sebagai teknologi informasi yang dapat digunakan dalam pengajaran. Secara spesifik yang dimaksud dengan media adalah alat-alat fisik yang menjelaskan isi pesan atau pengajaran, seperti: buku, film, video, slide dan sebagainya.
Dakwah adalah ajakan kepada kebaikan, arahan kepada kebajikan dan ajakan kepada perubahan yang lebih baik. 

Sedangkan yang dimaksud dengan media dakwah adalah alat yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah dari da’i kepada mad’u. Media dakwah banyak jenisnya sehingga seorang da’i harus memiliki keterampilan atau passion pada salah satu media dakwah atau bahkan menguasai seluruh media dakwah agar aktifitas berdakwahnya dapat mencakup seluruh mad’u baik lokal, nasional bahkan internasional. Namun seorang da’i tidak boleh melupakan etika dan norma dalam berdakwah.

Contoh Tugas Pengurus Majelis Taklim

Pembina:
a.       Mengarahkan/ membina/ membimbing pengurus dan kegiatan majelis taklim;
b.      Menghidupkan kegiatan keagamaan yang lebih bermanfaat;
c.       Menghidupkan kondisi persatuan dan kesatuan;
d.      Membantu menyusun kerjasama- kerjasama dengan pihak lain.
Penasihat:
a.       Memberikan arahan dan bimbingan dalam kegiatan majelis taklim;
b.      Memberikan saran dan masukan untuk program yang lebih baik;
c.       Membantu dalam menyelesaikan persoalan-persoalan majelis taklim.
Ketua:
a.       Bertanggung jawab atas semua kegiatan atau program majelis taklim;
b.      Menyusun jadwal kegiatan majelis taklim;
c.       Menciptakan kondisi majelis taklim yang bermanfaat.
Wakil ketua:
a.       Mengkoordinasikan semua tugas-tugas pengurus;
b.      Mewakili ketua dalam kegiatan-kegiatan ke luar majelis taklim;
c.       Menjalin kerja sama dengan majelis-majelis taklim lainnya.
Sekretaris:
a.       Mengkoordinir jalannya kegiatan majelis taklim;
b.      Menyusun jadwal kegiatan majelis taklim;
c.       Mengkoordinir semua tugas-tugas pengurus dan kegiatan majelis taklim;
d.      Bertanggung jawab terhadap dokumen-dokumen penting dalam pengembangan majelis taklim.
Wakil sekretaris:
a.       Membuat absen jamaah;
b.      Mensosialisasikan jadwal kegiatan majelis taklim;
c.       Bertanggung jawab terhadap dokumen-dokumen majelis taklim.
Bendahara:
a.       Mencari sumber dana untuk kegiatan majelis taklim;
b.      Mengkoordinir keuangan majelis taklim;
c.       Mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan majelis taklim;
d.      Bertanggung jawab terhadap keuangan majelis taklim.

Wakil bendahara:
a.       Mencari sumber dana untuk kegiatan majelis taklim;
b.      Menyiapkan transpor/ intensif tenaga pengajar;
c.       Menghimpun dana infaq;
d.      Menyusun laporan keuangan per-triwulan.
Seksi pendidikan dan dakwah:
a.       Mengkoordinir jalannya acara kegiatan majelis taklim;
b.      Mencari/ mengingatkan jadwal-jadwal pemateri;
c.       Mengatur petugas-petugas dalam acara kegiatan majelis taklim’
Seksi arisan:
a.       Mendata peserta arisan;
b.      Mengkoordinir berjalannya arisan.
Seksi tabungan:
a.       Mendata peserta tabungan;
b.      Mengkoordinir jalannya tabungan;
c.       Mengeluarkan dana tabungan atas izin ketua/ sekretaris.
Seksi hubungan masyarakat:
a.       Menjalin hubungan kerjasama dengan warga;
b.      Menghidupkan majelis taklim bersama-sama pengurus lainnya;
c.       Menghidupkan kerukunan umat beragama.
Seksi kesra/ mu’awanah:
a.       Mengkoordinir infaq mu’awanah;
b.      Membuat program santunan bagi warga yang sakit atau tertimpa musibah;
c.       Mengkoordinir dan memberikan bimbingan kepada ibu-ibu lansia;
d.      Mengeluarkan dana mu’awanah atas izin ketua/ sekretaris.
Seksi perlengkapan:
a.       Mendata/ merawat/ mengamankan inventaris majleis taklim;
b.      Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk kegiatan majelis taklim;
c.       Melaporkan kepada ketua/ sekretaris bila ada pihak yang akan meminjam inventaris.
Sekretariat:
a.       Membantu kegiatan secara umum;
b.      Membantu tugas-tugas kesekretariatan;

c.       Menata sekretariat untuk mendukung berbagai kegiatan.

Contoh soal Ujian Akhir Semester mata kuliah Manajemen Masjid

1.      1. Apakah yang anda ketahui mengenai
a.       ilmu manajemen;
b.      basik mengenai ilmu manajemen;
c.       kegiatan manajemen;
d.      bagaimana dengan ilmu manajemen masjid;
e.       sejauh mana relevansi mempelajari ilmu manajemen masjid?
2.      2. Apa yang anda ketahui tentang manajemen bangunan masjid?
3.      3. Kegiatan masjid apa saja yang perlu didakan pengaturannya?
4.     4.  Untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan kepengurusan masjid, maka perlu adanya pendataan jamaah. Mungkinkah anggota jamaah dapat didafta? Dan bagaimana cara mensosialisasikannya dan untuk keperluan apa saja diperlukannya daftar anggota jamaah masjid yang baik dan benar?
5.     5. Pemimpin muslim di Indonesia yang mendapatkan dukungan dari pemerintah Indonesia, mengembangkan ekonomi syariah dengan sarana dan prasarana, tetapi perkembangannya belum menggembirakan. Misalnya, capaian dari dana yang beredar masih 5%, masih sangat kecil dibandingkan dengan target yang diharapkan. Mengapa hal itu terjadi dan bagaimana solusinya?
Jelaskan dan solusinya menurut pendapat anda didasari dengan data yang valid!?

Minggu, 19 April 2015

Didi Triadi, S.Kom.I

Sempat bingung mau posting apa dengan judul nama sendiri yang diikuti gelar kesarjanaan. Sempat juga bolak balik klik tab tidak jelas. Akhirnya sekalian saja mencari templates untuk blog pribadi ini. Banyak macamnya namun mencari yang sesuai selera tidaklah mudah. Seperti ungkapan semakin banyak pilihan maka semakin rumit untuk menentukan pilihan.
Bicara tentang gelar kesarjanaan yang saya sandang, awalnya saya sendiri bingung. Jurusan yang saya ambil adalah manajemen dakwah namun gelarnya adalah sarjana komunikasi islam. Setelah beberapa saat merenung. Akhirnya saya menemukan keterkaitan jurusan dan gelar saya. Saya akhirnya tersenyum sendiri.
Baiklah untuk mengenal saya lebih dekat dan lebih dalam lagi. *gayaRomyRafael bisa pembaca lihat sendiri di profil saya. Disini saya ingin mensyiarkan dan lebih tepatnya memperkenalkan jurusan yang saya ambil di Universitas sewaktu saya masih kuliah. Sebelumnya sedikit informasi, blog ini saya dirikan agar ilmu yang  saya pernah timba dan gali tidak hilang dimakan waktu. Karena saya baru saja lulus pada tanggal 18 Maret 2015 sebagai sarjana komunikasi islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Comment

statistics